Cast Film “Jangan Buang Ibu” Sapa Mahasiswa Udinus dalam Gelar JBI Goes to Campus

Universitas Dian Nuswantoro menghadirkan cast film “Jangan Buang Ibu” di serangkaian kegiatan Goes to Campus. Kegiatan ini bertempat di Aula Gedung E lantai 3, pada Rabu, 3 Juni 2026. 

Film “Jangan Buang Ibu” merupakan karya garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu. Film ini menceritakan tentang kisah haru perjuangan Ibu tunggal yang terlupakan oleh anak-anaknya di masa tua, yang dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 25 Juni 2026.

Para pemeran utama film “Jangan Buang Ibu”, yakni Nirina Zubir, Refal Hady, dan Saputra Kori menyapa mahasiswa Udinus. Turut hadir pula Psikolog Nona Pooroe Utomo, Ed.M., M.A. yang memberikan refleksi psikologis mengenai tema keluarga yang diangkat dalam film tersebut.

Pengalaman Mendalami Karakter dan Membangun Emosi Selama Proses Produksi

Para pemeran membagikan pengalaman mereka dalam mendalami karakter dan membangun emosi selama proses produksi. Refal Hady beradaptasi memerankan anak pertama meski merupakan anak terakhir, Saputra Kori memerankan anak terakhir meski anak pertama, sementara Nirina Zubir menghadapi tantangan memerankan perempuan berusia sekitar 70 tahun.

Para pemeran turut mengulas pesan yang ingin disampaikan melalui film “Jangan Buang Ibu”. Nirina Zubir menilai bahwa film dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan empati dan memahami sudut pandang orang lain.

“Film ini mengajarkan manusia untuk berempati. Karena pada akhirnya, banyak hal dalam kehidupan yang bisa dipahami ketika kita mampu menempatkan diri pada posisi orang lain,” ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa orang tua yang telah melalui berbagai tantangan kehidupan sejatinya lebih membutuhkan kasih sayang daripada sekadar pengertian.

“Orang tua yang sudah mengalami banyak cobaan hidup sebenarnya bukan butuh dimengerti, melainkan butuh dicintai,” tambahnya.

Sesi Deep Talk bersama Psikolog tentang Hubungan Anak dan Orang Tuanya

Pesan film tersebut diperdalam melalui sesi deep talk bersama Psikolog Nona Pooroe Utomo yang mengajak mahasiswa merefleksikan peran ibu dan hubungan dalam keluarga. Nona menjelaskan bahwa hubungan antara anak dan orang tua perlu dibangun melalui perhatian, penghargaan, dan kasih sayang yang tulus. 

“Orang tua tidak selalu membutuhkan untuk dimengerti, tetapi mereka membutuhkan untuk dicintai. Ibu adalah sumber mata air yang tidak pernah kering,” ungkapnya.

Nona mengaitkan pesan film dengan teori perkembangan psikososial Erik Erikson yang menjelaskan delapan tahap perkembangan manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Melalui teori tersebut, ia menerangkan bahwa nilai-nilai seperti kasih sayang, kepercayaan, kepedulian, dan tanggung jawab dibentuk secara bertahap dalam setiap fase kehidupan. 

Diskusi yang memadukan perspektif perfilman dan psikologi tersebut mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang dunia film, tetapi juga diajak merefleksikan pentingnya menjaga hubungan dengan orang tua, khususnya ibu, serta mengembangkan sikap empati dalam kehidupan sehari-hari. 

Kolaborasi Strategis antara Udinus dan Leo Pictures dalam Membuka Peluang Magang bagi Mahasiswa

Pada kesempatan yang sama, Udinus dan Leo Pictures turut menandatangani nota kesepahaman Memorandum of Understanding atau MoU sebagai bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri kreatif. Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung dalam dunia perfilman profesional.

“Melalui kerja sama ini, mahasiswa Udinus berkesempatan mengikuti program magang di lingkungan industri perfilman serta memperoleh pengalaman belajar langsung mengenai proses produksi film profesional,” ujar Dr. Dwi Eko Waluyo selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Inovasi Udinus.

Penulis : Dona Sukmawati

Editor: Aiska Salsabila

Dokumentasi: Humas Udinus

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.