Sejak mula kusemat namamu dalam aksara semesta,
Kuyakin takdir tengah menenun kasih pada cakrawala yang sama.
Tak pernah kugesa waktu, sebab hatiku percaya pada dunia,
Bahwa kelak kita akan pulang, pada muara cinta yang sempurna.
Namun kau menjelma māyā, fatamorgana yang memuja bahagia,
Menyisakan aku memeluk sunyi dalam lautan air mata.
Senyummu yang dahulu menjadi amerta bagi jiwa yang lara,
Kini mekar di wajah perempuan yang kau sebut ibu bagi buah cinta.
Kupandangi bayangnya bagai prasasti yang tak mungkin sirna,
Namanya terukir di takdirmu, sedang aku hanya jeda yang fana.
Ternyata keyakinanku hanyalah doa yang kehilangan suara,
Luruh bersama gugurnya harap di pelataran senja.
Andai benar semesta pernah menulis kisah kita, mengapa akhirnya berbeda?
Mengapa benang yang kurajut justru menjadi simpul nestapa?
Maka kubiarkan namamu bersemayam sebagai nirwana yang tak kugapa,
Sebab tak semua yang diyakini akan bermuara pada kita.
Penulis: Yuriken Dewi
Editor: Annisa Cardina