Mengenal Bubur Asyura, Hidangan Khas Bulan Muharram

Mengenal Bubur Asyura, Hidangan Khas Bulan Muharram

  Ilustrasi Bubur Suro, Sumber : Kompas.com

Tahun Baru Islam 1448 H menjadi momen penting bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi diri sekaligus mempererat hubungan dengan sesama. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai pergantian waktu, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas kehidupan. Di berbagai daerah di Indonesia, peringatan bulan Muharram turut diwarnai oleh berbagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, salah satu tradisinya adalah penyajian Bubur Asyura.

Bubur Asyura merupakan salah satu hidangan khas bulan Muharram atau Tahun Baru Islam. Di Indonesia, bubur ini sering disebut Bubur Suro dan biasanya disajikan secara turun-temurun saat perayaan Tahun Baru Islam (1 Muharram ) dan Hari Asyura (10 Muharram) sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan doa keselamatan. Tradisi ini telah berkembang di berbagai wilayah, seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, hingga Kalimantan. Di berbagai daerah, setiap warga bergotong royong untuk memasak bubur dengan porsi yang besar di masjid atau mushola, kemudian membagikannya kepada sesama sebagai bentuk sedekah.

Dikutip dari detiknews.com, tradisi bubur suro diyakini telah berkembang sejak masa pemerintahan Sultan Agung di Jawa. Sebagaimana hidangan yang disajikan dalam berbagai upacara adat Jawa, bubur Suro menjadi simbol ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan berkah dan rezeki yang diterima. Di beberapa daerah, bubur Asyura diolah menggunakan puluhan jenis bahan makanan, mulai dari sayuran, kacang-kacangan, jagung, hingga daging. Perpaduan berbagai bahan dalam bubur Asyura dimaknai sebagai simbol syukur atas rezeki yang berlimpah dan keberagaman yang mewarnai kehidupan.

Pada Tahun Baru Islam 1448 H, Bubur Asyura kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kebersamaan, gotong royong, dan semangat berbagi. Bubur Asyura tidak hanya sekadar hidangan, melainkan simbol untuk mempererat tali persaudaraan dalam suasana yang penuh kehangatan. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya merayakan datangnya tahun baru Hijriah, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial dan keagamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Fara Amelia Syarif
Editor: Dinar Emilia 
Dokumentasi: Kompas.com 

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.