Generasi Z atau Gen Z yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012 kini mulai memasuki
fase kehidupan dewasa dan dunia kerja. Namun, kelompok usia ini langsung dihadapkan pada
kenyataan pahit berupa rentetan krisis global dan harga properti yang melonjak tajam. Tumbuh
besar dengan paparan berita buruk yang disiarkan secara waktu nyata di internet membuat
mereka rentan mengalami stres kronis. Tekanan psikologis inilah yang memicu sebuah tren
pengeluaran ganjil belakangan ini. Alih-alih berhemat di tengah badai inflasi, banyak Gen Z
yang justru tampak asyik membelanjakan uangnya untuk kebutuhan tersier seperti barang
mewah, tiket konser, hingga liburan impulsif. Fenomena pelarian finansial ini dikenal oleh para
pakar dengan sebutan doom spending.
Berbeda dengan pola konsumsi biasa, doom spending bukanlah bentuk dari kebebasan finansial,
melainkan sebuah mekanisme pelarian terhadap stres. Daripada menabung untuk masa depan
yang terasa semakin sulit dijangkau, banyak anak muda memilih membelanjakan uang mereka
demi mendapatkan kebahagiaan instan.
Pakar bisnis dari Universitas Boston, Greg Stoller, seperti yang dilansir oleh portal berita Nikkei
Asia pada tahun 2025, memaparkan fakta tersebut. “Gen Z cenderung bertindak berdasarkan
dorongan sesaat. Saat melihat sesuatu yang disukai, mereka akan langsung membelinya tanpa
memikirkan dampak masa depan,” tegasnya. Hal ini menegaskan bahwa kemudahan akses
transaksi digital turut memperparah perilaku belanja impulsif tersebut. Di tingkat lokal,
berdasarkan publikasi jurnal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura pada
tahun 2025, fenomena ini dikaitkan erat dengan konsep mood congruent consumption. Konsep
tersebut mendefinisikan kecenderungan individu untuk melakukan aktivitas belanja daring demi
memperbaiki suasana hati saat merasa tertekan oleh berita buruk atau kondisi ekonomi.
Menyalahkan generasi muda sepenuhnya atas tren ini bukanlah solusi yang adil. Perilaku
tersebut merupakan bentuk keputusasaan dari sebuah generasi yang merasa terasing dari impian
finansial konvensional. Untuk memutus rantai konsumtif ini, diperlukan tingkat kesadaran diri
yang kuat serta regulasi emosi yang tangguh. Meningkatkan literasi keuangan dan membatasi
paparan media sosial terbukti mampu membantu menekan dorongan impulsif tersebut.
Kedamaian hidup sejatinya tidak diukur dari jumlah paket belanjaan yang tiba di rumah,
melainkan dari seberapa mahir kita mengelola realitas masa kini tanpa mengorbankan stabilitas
keuangan hari esok.
Penulis: Shazia Mirza
Editor: Annisa Cardina
Sumber: asia.nikkei.com, jurnal.untan.ac.id