Cinta Beda Kasta

Namaku hanya Arunika, pantaskah bersanding dengan kamu yang Mangkunegara? Perbedaan kasta menjadi jurang pemisah rasa di antara kita berdua. Aku yang dayang biasa dan kamu yang Raden Mas Hardinata.

Kita berdua terikat oleh rasa yang sama. Rasa yang sering orang-orang sebut dengan cinta. Namun sayang seribu sayang, tangan dan jemari kita harus merasa cukup hanya dengan bertaut kala berdua saja. Tak akan mungkin bila seorang pelayan menggenggam sang pangeran di depan banyak orang, bukan?

Sembunyi-sembunyi kecil ini timbul sebab status kita berdua. Status seringkali membuatku merasa rendah kala duduk bersamamu di taman keraton yang sepi. Rasa tak pantas itu bagai belenggu yang selalu mencekik kewarasanku, memintaku untuk berhenti mencintaimu.

Namun di setiap kesempatan kita bersua, kamu selalu berkata, “gadisku, di depan Tuhan dan semesta, kasta tidaklah ada artinya. Begitu pula kala Ia di depan cinta. Jadi aku dan kamu itu kodratnya sama, sama-sama manusia semesta yang jatuh cinta.” Sungguh, kebohongan yang manis.

Mungkin, orang hina sepertiku memang mudah dibodohi. Rasa percaya yang tadinya sebesar bukit di seberang telaga, kini menyusut jadi sekecil kerikil di bawah pijakan. Baru-baru ini, kamu akrab dengan seorang putri keraton dari kota seberang. Hingga kamu lupa; aku, bangku taman keraton, dan eloknya purnama menunggu janji kita berdua untuk berjumpa. Lalu aku tertawa, bukan sebab kecewa, hanya dihantam rasa sadar diri saja. Aku kembali sadar, bahwa sedekat apapun bentala dengan jumantara, hasta Arunika tak akan pernah sanggup untuk menjangkaunya.

Ternyata, sang Mangkunegara tak pernah menyimpan besar cinta yang sama. “Saya rasa, kita tak lagi bisa bersama. Kau tahu, kita berbeda. Kamu mengucapkannya di bawah purnama yang bahkan sinarnya tak sampai mengecup parasmu yang sempurna. Tujuh hari tujuh malam, tangisnya bertahan hingga kering kerontang. Perihnya bertahan lama, menggerogot habis besar cinta yang kupunya sampai lenyap tak bersisa, menggantinya dengan tanah gembur yang bahkan bunga tak akan berani mekar subur di sana.

Penulis: nilakandi
Editor: Dinar Emilia

Related Post

The Art of Being Seen

Ada pertemuan yang datang tanpa izin. Semuanya bermula pada malam penutupan ospek yang diguyur hujan.…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.