Ada pertemuan yang datang tanpa izin. Semuanya bermula pada malam penutupan ospek yang diguyur hujan. Di bawah kilatan cahaya panggung yang benderang, Leia merasa dirinya hanya sebutir pasir asing di tengah keramaian. Hingga semuanya berubah saat seorang panitia menghampirinya. “Pakai aja,” Athaar menyodorkan jas hujan biru tua kepada Leia.
“Hah? Buat aku?” Athaar hanya mengangguk.
“Kenapa dikasih ke aku kak?” Athaar tersenyum kecil.
“Nggak tau. Mungkin karena dari kemarin aku lihat kamu, jadi kepikiran kasih ke kamu?” Leia terdiam. Sebelum ia merespons, Athaar sudah mengangkat kameranya. Klik. Klik. Jepretan kamera terdengar beberapa kali, lalu kembali tenggelam dalam derasnya hujan. Athaar sibuk menangkap momen, sementara Leia baru sadar ia telah menjadi salah satunya. Tak lama Athaar menghilang, dan jas hujan itu akhirnya terbawa pulang oleh Leia.
Keesokan harinya, riuh ospek berganti kesibukan kuliah di gedung Fakultas Ilmu Komputer. Sore hari di kantin, ponsel Leia bergetar, @athaarferio mulai mengikuti Anda. Sebuah pesan masuk di DM bersama file foto dirinya di tengah hujan. “Fotonya bagus. Btw, jas hujannya buat kamu aja,” tulis Athaar. Pesan itu memulai interaksi mereka. Lewat pesan-pesan singkat, mereka perlahan terasa akrab. Namun, kedekatan itu tak pernah benar-benar ikut keluar dari layar ponsel. Saat berpapasan di koridor Fakultas Ilmu Komputer, mereka hanya melempar senyum canggung. Hari demi hari berlalu, dan mereka semakin jarang berpapasan. Percakapan di DM pun perlahan melandai hingga tenggelam sepenuhnya. Mereka memilih tetap menjadi dua orang asing yang hanya akrab di balik layar.
Memasuki semester dua, koridor Gedung Fakultas Ilmu Komputer menggelar pameran fotografi mahasiswa. Langkah Leia terhenti di depan sebuah foto. Itu foto dirinya saat malam ospek. Di sudut bingkai itu, tertulis kecil Sesaat – Athaar Ferio. Leia tersenyum tipis. Saat keluar dari gedung, rintik hujan mulai turun. Di pelataran rektorat, sesosok laki-laki berjalan dengan ransel di satu bahu, Athaar. Jarak mereka hanya belasan langkah. Athaar menoleh, mengenali Leia lebih dulu, lalu mengangguk kecil seraya tersenyum tipis. Leia membalas anggukan itu. Hanya sebentar, sebelum mereka kembali berjalan ke arah yang berbeda tanpa sapaan. Tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk menetap. Ada yang hanya singgah, lalu kembali menjadi asing. Namun bagi Leia, pernah dibuat merasa benar-benar terlihat oleh seseorang sudah lebih dari cukup.
Penulis: Aulia Lanjaringtyas
Editor: Dinar Emilia