Waktu berjalan dengan bodoh. Merajut detik demi detik keabadian yang tak masuk akal. Phainon berdiri, bertarung, lalu mati di satu situasi yang tak kunjung bisa Ia mengerti, terus berputar dan berputar bagai korsel yang tak pernah kehabisan koin. Siklus kegagalan yang sialnya terus Ia ulang—meski jutaan siklus telah terbuang.
Kalau boleh murka, sudah dari lama Phainon membelah dunia. Kalau boleh buang akal sehatnya, sudah dari lama Phainon buat mati seluruh manusia. Kalau boleh hilangkan senyum di wajahnya, sudah dari lama dunia tenggelam oleh air matanya. Tapi Phainon tidak bisa; walau sejawat hatinya tinggalkan dunia, Phainon tetap tidak bisa murka, tidak bisa gila, Ia hanya bisa tersenyum, sampai dunia kembali baik-baik saja.
Kalau boleh menyalahkan takdir, sudah dari lama Phainon membunuh dirinya sendiri. Kalau boleh mempermainkan waktu, sudah dari lama Phainon gantikan temannya satu persatu, menghadapi kematian-kematian mengerikan itu. Tapi Phainon tidak bisa, esensi hidupnya adalah satu-satunya harapan dunia. Hanya dia, hanya dia yang bisa; mengapa harus dia?
Phainon tidak pernah mengerti, makna dari keabadian itu sendiri. Mereka hidup begitu lama, kemudian pergi begitu saja saat segalanya hampir sempurna. Hanya tersisa dirinya saja, yang ditelan rasa hampa, berdiri di tengah derasnya arus takdir, menjadi bahan tertawaan semesta.
Bisa Phainon dengar, seruan demi seruan tak berdaya milik manusia yang tersisa menari di telinganya; membisikkan asa besar untuk Phainon tuntaskan. Seruan-seruan itu kian mengencang bagai genderang perang. Berisikan tangisan sedu sedan, mengharap hadirnya Phainon boleh bawa semesta selamat dari bencana, mengharap satu ayun dari pedangnya boleh musnahkan gelombang hitam yang menelan semestanya pelan-pelan. Tapi Phainon sungguh tak bisa; walau tekadnya terus membara, meski rasa menyerah tak pernah mengudara, Ia tetap akan kembali berdiri di sana. Di atas kegagalan yang tak pernah ada ujungnya.
Jutaan kali kesempatan yang Ia punya, tak ada satu tetes keberhasilan yang sudi merengkuhnya. Phainon bertanya-tanya, apa yang mereka harapkan dari pengecut sepertinya? Mereka tidak melihat, seberapa congkak takdir mempermainkannya. Tak ada hamparan emas padi yang meluas, tak ada sinar mentari pun gelak tawa hangat, tak ada kanigara yang sanggup berdiri tegak menengadah. Dunia baru yang Ia kira akan diwujudkan bersama, hanya ada dalam mimpinya saja.