Perhitungan

Kabut pagi bergumul di atas permukaan sungai, seolah enggan menyingkir dari pemandangan di bawahnya. Udara dingin yang membawa anyir darah berembus menusuk sumsum tulang. Di balik lensa kameraku, dunia menampakkan wajahnya yang telah kehilangan kewarasan. Mataku membidik lurus pada pilar beton jembatan di depanku. Bangunan itu berdiri angkuh dan rasional, namun di bawah fondasi kokoh tersebut, harmoni arsitektur dihancurkan oleh kebiadaban. Aliran sungai tersendat oleh raga manusia yang berjejal, mengambang terbawa arus pelan menuju muara yang tak sudi menampung kutukan ini.

Jari telunjukku menekan tombol rana. Klik. Sepotong kenyataan tertelan ke dalam ruang gelap kamera. Kakiku melangkah menyusuri tepian lumpur merekam sisa napas yang telah dibungkam paksa. Orang berseragam memberiku perintah merangkum kematian ini sebagai tugas sejarah. Tetapi di dalam bingkai kaca ini, aku tidak menemukan rupa iblis atau musuh negara. Lensa ini hanya menangkap tangan kaku yang menggenggam sisa rami, kemeja lusuh, dan wajah pias bumiputra yang bahkan buta huruf soal urusan di ibu kota. Timbangan keadilan itu telah patah, dan aku tidak lebih dari sekadar mata kaca yang dipaksa memandang keruntuhan ini tanpa diizinkan memalingkan wajah.

Suara langkah sepatu lars bergesekan dengan kerikil memecah keheningan. Ia datang dari arah tanggul, seorang algojo lapangan yang memimpin pembersihan semalam. Namanya Suroso. Di tangan kanannya mengepul segelas kopi hitam, dan di bibirnya terselip sebatang rokok kretek. Wajahnya kelewat santai. Ia melangkah melewati tumpukan mayat seolah baru saja selesai menyelenggarakan kerja bakti desa.

“Bagus fotomu, Ta?” sapanya ringan, sama sekali tanpa beban. Ia menepuk pundakku santai lalu berjongkok di tepi air, sekadar mencuci tangannya yang terciprat noda merah. Suroso menghirup kopinya dalam-dalam sambil memandangi hamparan sungai. “Tujuh jenderal di Jakarta sana sudah lunas kita bayar hari ini. Beres sudah kerjaan kita,” gumamnya pelan, lebih terdengar seperti orang yang lega sehabis memanen padi daripada seorang jagal yang baru saja mencabut ratusan nyawa.

Di dalam kepalaku, hitungan itu mulai berdetak. Satu, dua, tiga, hingga tujuh. Tujuh orang di ibu kota sana. Sebuah angka yang jauh, sebuah tragedi yang tak pernah dipahami oleh orang-orang malang di desa ini. Mataku kembali mengintip dari balik lensa, mencoba menghitung raga yang tersangkut di kelokan sungai. Sepuluh, tiga puluh, ratusan. Bagaimana mungkin tujuh nyawa di kota sana harus ditukar dengan ribuan leher petani di sini? Mereka diseret hanya karena pernah hadir di rapat desa demi segenggam benih jagung.

Tuas pemutar di kameraku mendadak macet. Rol film pertamaku habis, telah menelan terlalu banyak gambar kematian hingga tak sanggup lagi berputar. Aku membuka punggung kamera perlahan, mengeluarkan tabung seluloid itu dengan tangan yang berusaha keras agar tidak gemetar. Namun ketika aku merogoh kantong celana untuk mencari rol cadangan, jari-jariku hanya menemukan kekosongan.

Melihat gerak-gerikku yang tertahan, Suroso tertawa kecil. Ia merogoh saku kemeja safarinya dan melemparkan dua kotak kecil ke arahku. Aku menangkapnya dengan sigap. Mataku langsung tertuju pada kemasan kotak kuning bergaris merah itu. Kodak. Barang impor dari seberang lautan, sebuah anomali mencolok di tengah desa agraris yang warganya kesulitan mencari sesuap nasi.

“Pakai itu, barang bagus. Kiriman dari tuan-tuan di kota,” ucap Suroso santai, menginjak puntung rokoknya ke dalam tanah basah. Aku meraba permukaan kotak kuning yang halus itu. Tubuhku berdesir. Ironi yang teramat pekat tiba-tiba menyergap dadaku. Benda mewah buatan luar negeri ini melintasi benua hanya untuk merekam tubuh kurus para petani bumiputra yang dibantai saudaranya sendiri. Tidak ada amarah ideologis di mata tuan-tuan nun jauh di sana, hanya urusan mengirimkan dukungan logistik agar desa ini dibersihkan sesuai keinginan mereka.

Aku memasukkan rol film kuning itu ke dalam bilik kameraku. Terdengar bunyi klik pengunci yang kini beresonansi layaknya ketukan palu algojo. Alat asing ini sekarang bersiap merekam kengerian dengan pita mulusnya. Cahaya pagi mulai menerangi tekstur luka dan lumpur pada raga para korban, bersiap direkam secara sempurna oleh seluloid yang tak akan pernah peduli pada tangis dan penderitaan mereka.

Matahari merangkak naik, menelanjangi segala kengerian yang sedari tadi disembunyikan oleh kabut. Aku terus melangkah menyusuri tepian basah, menyeret kakiku yang terasa semakin berat oleh lumpur dan rasa bersalah. Di sebuah kelokan sungai, tepat di bawah jalinan akar gantung pohon beringin tua, mataku menangkap sebuah raga. Sosok itu tersangkut, terombang-ambing pelan oleh arus yang seolah berusaha melepaskannya. Aku mengangkat kamera dan memutar cincin fokus perlahan-lahan.

Bayangan buram di dalam jendela bidik perlahan merupa menjadi garis wajah yang tajam, dan tepat pada detik itu napasku tercekat di tenggorokan. Wajah pucat pasi berlumur lumpur itu sangat kukenal. Ia adalah pria tua penjual buku bekas di sudut alun-alun kota, orang rabun yang sering menawariku teh hangat dan berdiskusi panjang soal sastra. Pria yang tangannya selalu gemetar bahkan hanya untuk menyalakan korek api. Kenyataan ini menghantam rongga dadaku tanpa ampun.

Kedua tanganku mendadak gemetar hebat. Garis cakrawala di dalam lensa kameraku miring seketika, meruntuhkan segala aturan komposisi dan harmoni yang selama ini kuagungkan. Aku dipaksa merekam kematian sahabat pengetahuanku sendiri sebagai piala kemenangan. Pandanganku mengabur oleh air mata pekat yang tak sanggup lagi kubendung. Aku berdiri membeku, hancur sebagai manusia, menjadi saksi bisu dari pembantaian akal sehat.

Dari kejauhan, Suroso berdiri bertolak pinggang di atas tanggul, melambaikan tangan dengan wajah berseri. “Kasih lihat jepretan itu ke orang kota, Ta! Biar dunia tahu kita pahlawannya!” teriaknya santai, seolah kematian di sekitarnya hanyalah hiasan. Teriakannya mengudara bebas, mengunci sebuah kebenaran mutlak bahwa di tanah ini kebiadaban telah resmi berganti nama menjadi kepahlawanan. Aku hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan getar tubuhku sendiri.

Namun ketika malam turun dan aku menyendiri di dalam gulita ruang cuci cetak, tanganku tak lagi bisa berbohong. Bau tajam cairan kimia developer di udara seakan bercampur baur dengan anyir darah sungai pagi tadi. Napasku memburu dalam remang cahaya lampu merah. Dengan tangan bergetar, aku memotong pita negatif itu secara diam-diam. Aku menyerahkan sebagian rol film kepada Suroso sebagai bukti pengabdian palsu, dan menyembunyikan satu potongan klise paling esensial di dasar kotak perkakas kayuku. Potongan yang menyimpan wajah sang penjual buku, mengurung kebenaran agar tak ikut dihanguskan oleh pemenang.

Enam puluh tahun telah berlalu semenjak pagi jahanam itu, dan waktu dengan angkuh menutupi jejak amis darah. Tepian sungai ini telah dirombak menjadi sebuah taman kota yang tertata amat rapi. Pilar jembatan beton kini dihiasi lampu warna-warni yang memantul indah di permukaan air. Orang-orang muda berlalu lalang, tertawa lepas, dan memotret diri mereka di titik yang sama persis tempat ratusan nyawa dibungkam paksa. Mereka berpijak tanpa pernah tahu bahwa di bawah telapak sepatu mereka tertidur sebuah sejarah yang digorok lehernya.

Dan di bangku taman inilah aku duduk, seorang lelaki tua renta yang dikutuk untuk terus mengingat. Di saku kemejaku, jari-jariku yang keriput terus meraba sebuah klise film hitam putih yang usang. Sebuah kepingan bukti nyata yang hingga detik ini tidak pernah mendapatkan hari peradilannya. Sejarah telah ditulis oleh mereka yang memegang parang, sementara kebenaran dibiarkan membusuk. Timbangan keadilan di negeri ini memang telah patah sejak lama, dan rasanya tidak akan pernah diperbaiki lagi.

Penulis: Tegar Pangestu
Editor: Dinar Emilia

Related Post

The Art of Being Seen

Ada pertemuan yang datang tanpa izin. Semuanya bermula pada malam penutupan ospek yang diguyur hujan.…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.