Bagas (bukan nama sebenarnya) menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya. Matahari Batam
pada Minggu pagi itu terasa jauh lebih terik dari biasanya. Di tangan kanannya yang masih
mungil, bocah sepuluh tahun itu menggenggam selembar karton putih bertuliskan spidol merah
tebal: “Kami Butuh Makan Bergizi Gratis!” Bagas tidak terlalu paham apa definisi dari “bergizi”.
Yang ia tahu hanyalah perutnya mulai keroncongan setelah dipaksa berdiri dan berjalan sejak
pukul setengah tujuh pagi bersama ratusan kawan sebayanya.


“Bu, kita mau ke mana sih? Panas,” keluh Bagas, menarik-narik ujung tunik ibunya yang ikut
berbaris di tengah kerumunan.


“Sst, ikut saja. Kata orang Dinas, ini pawai biasa. Biar jatah makan siang kamu di sekolah tidak
disetop,” bisik ibunya setengah menunduk, tangannya sibuk membetulkan topi sekolah dasar
yang bertengger miring di kepala Bagas.


Bagas menurut. Ia menatap ke depan. Di atas mobil bak terbuka yang disulap menjadi panggung
komando, seorang pria dewasa memegang mikrofon erat-erat. Suaranya menggelegar dari
pelantang suara, membicarakan program pemerintah, kebijakan prioritas, hingga tantangan
politik untuk tahun 2029.


“Betul tidak, Bapak-Ibu?!” seru pria di atas mobil itu.


“Betuulll!” sahut kerumunan orang dewasa.


Bagas hanya ikut bertepuk tangan saat ibunya bertepuk tangan. Kepalanya pusing mendengar
orasi yang sama sekali tidak ada di dalam buku pelajaran Pendidikan Pancasila.
Dari trotoar seberang, seorang petugas perlindungan anak hanya bisa menghela napas panjang
melihat lautan seragam merah-putih dan biru-putih itu. Di dalam dadanya bergemuruh sebuah
ironi: aspal jalanan bukanlah tempat bermain anak-anak, dan kepolosan mereka terlalu berharga
untuk sekadar dijadikan tameng spanduk orang-orang dewasa.


Namun di tengah hiruk-pikuk aspal Batam hari itu, suara serak Bagas yang ikut meneriakkan
yel-yel tanpa makna tenggelam habis oleh sorak-sorai ambisi orang-orang yang lebih tua
darinya.

Penulis: Shazia Mirza

Editor: Annisa Cardina

Related Post

The Art of Being Seen

Ada pertemuan yang datang tanpa izin. Semuanya bermula pada malam penutupan ospek yang diguyur hujan.…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.